Monday, November 21, 2016

MANAJEMEN KEUANGAN Crative Accounting

MANAJEMEN KEUANGAN Crative Accounting

1.1.    Pendahuluan 
Sejarah perkembangan pemikiran akuntansi (accounting thought) dibagi dalam tiga periode: tahun 4000 SM – 1300 M; tahun 1300 – 1850 M, dan tahun 1850 M sampai sekarang. Masing-masing periode memberi kontribusi yang berarti bagi ilmu akuntansi. Pada periode pertama akuntansi hanyalah bentuk record-keeping yang sangat sederhana, maksudnya hanyalah bentuk pencatatan dari apa saja yang terjadi dalam dunia bisnis saat itu. Periode kedua merupakan penyempurnaan dari periode pertama, dikenal dengan masa lahirnya double-entry bookkeeping. Pada periode terakhir banyak sekali perkembangan pemikiran akuntansi yang bukan lagi sekedar masalah debit kiri – kredit kanan, tetapi sudah masuk ke dalam kehidupan masyarakat. Perkembangan teknologi yang luar biasa juga berdampak pada perubahan ilmu akuntansi modern (Basuki, 2000).
Pengguna akuntansi juga bervariasi, dari yang sekedar memahami akuntansi sebagai: 1) alat hitung menghitung; 2) sumber informasi dalam pengambilan keputusan; 3) sampai ke pemikiran bagaimana akuntansi diterapkan sejalan dengan (atau sebagai bentuk pengamalan) ajaran agama. Bila dihubungkan dengan kelompok usaha kecil dan menengah tampaknya pemahaman terhadap akuntansi masih berada pada tataran pertama dan kedua yaitu sebagai alat hitung-menghitung dan sebagai sumber informasi untuk pengambilan keputusan (Basuki, 2000)
Informasi akuntansi sangat diperlukan oleh pihak manajemen perusahaan dalam merumuskan berbagai keputusan dalam memecahkan segala permasalahan yang dihadapi perusahaan. Informasi akuntansi yang dihasilkan dari suatu laporan keuangan berguna dalam rangka menyusun berbagai proyeksi, misalnya proyeksi kebutuhan uang kas di masa yang akan datang.
Tuntutan pasar pada perusahaan untuk membuat keuntungan sering menyebabkan penurunan kualitas laporan keuangan yang dihasilkan. Tekanan ini mempengaruhi manajemen untuk dapat menyajikan laporan keuangan dengan posisi laba. Untuk mencapai posisi laba tersebut tak jarang perusahaan memanfaatkan praktek creative accounting.
 2.1. Pengertian dan Definisi Creative accounting
Akuntansi adalah suatu aktivitas jasa (mengidentifikasikan, mengukur, mengkalsifikasikan dan mengikhtisarkan) kejadian atau transaksi ekonomi yang menghasilkan informasi kuantitatif terutama yang bersifat keuangan yang digunakan dalam pengambilan keputusan (Amin. W, 1997). Secara sederhana akuntansi dapat dianalogikan sebagai speedometer ntuk mengecek kecepatan kendaraan.
Akuntansi mencatat sebuah peristiwa/kejadian yang menyebabkan terjadinya perubahan dana yang bisa kita sebut sebagai transaksi dan mengolah peristiwa/kejadian tersebut menjadi informasi keuangan. Dalam hal ini akuntansi digunakan sebagai alat untuk menyediakan informasi terkait dana. Dana yang dimaksud dalam informasi keuangan ini memiliki berbagai bentuk seperti, uang tunai, kendaraan, pinjaman, dan setoran modal. Penggunaan dana umumnya terdiri dari elemen aset, biaya, dan pengambilan dana untuk kepentingan perusahaan (pengambilan pemilik). Di lain pihak, dana diperoleh dalam bentuk liabilitas, penghasilan, dan ekuitas. Dengan demikian The law of fund dapat digambarkan sebagai berikut (Hardono, 2013):
Penggunaan Dana
=
Pemerolehan dana
Aset+Biaya+Pengambilan Pemilik
=
Liabilitas+Ekuitas+Penghasilan
Praktek nyata akuntansi dalam organisasi perusahaan telah membantu manajemen dari suatu organisasi untuk melihat secara jelas fenomena abstrak dan konseptual yang tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya, misalnya pemaknaan laba dan biaya yang dalam praktek akuntansi dewasa ini merupakan simbol-simbol umum dan secara lazim memang diterima (Triyuwono, 2000).
Informasi tentang akuntansi keuangan digunakan oleh beberapa pihak seperti investor, bank dan pemasok, lembaga pemerintah dll. Bagi investor informasi terkait akuntansi ini berguna untuk mengetahui status keuangan dan prospek keuangan perusahaan di masa yang akan datang. Untuk bank dan pemasok informasi akuntansi keuangan tersebut digunakan ntuk menilai tingkat kesehatan suatu perusahaan dan menaksir besarnya risiko sebelum mereka memberikan pinjaman atau memberikan kredit barang sedangkan untuk pemerintah informasi ini digunakan untuk keperluan perpajakan.
Normalnya seorang akuntan harus mengikuti aturan yang ada dalam pembuatan laporan keuangan, yaitu sesuai dengan aturan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dalam melakukan penyusunan laporan keuangan perusahaan. Namun dalam kenyataanya banyak perusahaan yang secara kreatif melakukan manipulasi data keuangan dengan memanfaatkan creative accounting untuk mendapatkan respon yang baik dari beberapa kalangan. Hal tersebut dilakukan tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menghasilkan performa perusahaan yang optimal secara pembukuan.
Creative accounting oleh secara umum dianggap hal yang tidak etis karena memanipulasi data. Meskipun beberapa kalangan beranggapan bahwa creative accounting bukanlah suatu perbuatan yang negatif, sepanjang kreatifitas yang dimaksud tidak digunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan dengan prinsip akuntansi.
Menurut Merchant and Rockness (1994), Creative accounting merupakan sebuah aksi bagian manajemen yang mempengaruhi laporan pendapatan yang menjelaskan keuntungan ekonomi yang semu untuk organisasi dan faktanya dalam jangka waktu panjang akan sangat merugikan. Hampir senada dengan pendapat sebelumnya, Naser (1993) menyatakan bahwa creative accounting merupakan transformasi bentuk akuntansi keuangan dari apa yang sebenarnya terjadi menjadi seperti apa yang diharapkan pelaku dengan mengambil keuntungan dari peraturan-peraturan yang ada dan atau mengabaikan sebagian atau keseluruhan dari peraturan-peraturan tersebut.
Maraknya praktik creative accounting dilakukan oleh beberapa perusahaan karena terbukti cara tersebut telah membantu banyak perusahaan untuk keluar dari krisis. Hal tersebut diamini pula oleh Fiserova dan Slova (2005), yang menyatakan banyak kasus dimana perusahaan mendapatkan keuntungan dengan menggunakan tehnik creative accounting dan tetap bertahan dalam masa-masa sulit.
Manajemen berada pada posisi yang dapat membuat keputusan akuntansi dan pelaporan tanpa sepengetahuan para karyawan. Creative accounting sangat mungkin dilakukan oleh manajemen, karena manajemen dengan informasi yang dimilikinya akan leluasa untuk memilih alternatif metode akuntansi. Manajemen akan memilih metode akuntansi tertentu jika terdapat insentif dan motivasi untuk melakukannya. Cara yang paling sering digunakan adalah dengan merekayasa laba (earning management), karena laba seringkali menjadi fokus perhatian para pihak eksternal yang berkepentingan.
Usaha untuk meningkatkan performa perusahaan demi menghasilkan keuntungan dilakukan dengan memanfaatkan creative accounting untuk memperbaiki laporan keuangan. Passer dan Smith (2008), mendefinisikan motivasi sebagai sebuah proses yang memengaruhi arah, ketekunan, dan kekuatan perilaku individu atau organisasi dalam mencapai tujuan. Melalui pendekatan kognitif, perilaku pencapaian tujuan ini dibentuk oleh 2 faktor, yaitu faktor ekspektasi dan faktor imbalan. Dengan kata lain, makin tinggi imbalan yang akan didapatkan, makin tinggi juga ekspektasi yang ditetapkan sehingga motivasi untuk mencapai nilai tersebut pun makin besar. Secara umum terdapat beberapa hal yang memotivasi individu atau badan usaha melakukan tindakan creative accounting diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Motivasi politis
Pada aspek politis ini, manajer cenderung melakukan kreativitas akuntansi untuk menyajikan laba yang lebih rendah dari nilai yang sebenarnya, terutama selama periode kemakmuran tinggi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi visibilitas perusahaan sehingga tidak menarik perhatian pemerintah, media, dan konsumen yang dapat menyebabkan meningkatnya biaya politis perusahaan. Rendahnya biaya politis akan menguntungkan manajemen..
  1. Mencapai ekspektasi internal
Perusahaan harus menghadapi banyak harapan dari pemegang saham. Pekerja dan pelanggan tentunya menginginkan peruasahaan untuk bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Supplier ingin memastikan tentang pembayaran dan hubungan jangka panjang dengan perusahaan.
  1. Provide Income Smoothing
Perusahaan ingin menunjukkan betapa stabilnya pendapatan perusahaan untuk memuaskan para investor dan untuk menjaga agar harga saham tetap stabil. Selain melakukan kontrak bisnis dengan pemegang saham, untuk kepentingan ekspansi perusahaan, manajer seringkali melakukan beberapa kontrak bisnis dengan pihak ketiga, dalam hal ini adalah kreditor. Agar kreditor mau menginvestasikan dananya di perusahaannya, tentunya manajer harus menunjukkan performa yang baik dari perusahaannya. Dan untuk memeroleh hasil maksimal, yaitu pinjaman dalam jumlah besar, perilaku kreatif dari manajer untuk menampilkan performa yang baik dari laporan keuangannya pun seringkali muncul.
  1. Window Dressing for an IPO or a Loan
Perusahaan dapat memberikan kesan yang baik terkait dengan kemudahan dalam peminjaman. Proses penjualan saham perusahaan ke publik akan direspons positif oleh pasar ketika perusahaan penerbit saham (emiten) dapat menjual kinerja yang baik. Salah satu ukuran kinerja yang dilihat oleh calon investor adalah penyajian laba pada laporan keuangan perusahaan. Kondisi ini seringkali memotivasi manajer untuk berperilaku kreatif dengan berusaha menampilkan kinerja keuangan yang lebih baik dari biasanya.
  1. Taxation
Tindakan creative accounting tidak hanya terjadi di perusahaan go public dan selalu untuk kepentingan harga saham, tetapi juga untuk kepentingan perpajakan. Kepentingan ini didominasi oleh perusahaan yang belum go public. Perusahaan yang belum go public cenderung melaporkan dan menginginkan untuk menyajikan laporan laba fiskal yang lebih rendah dari nilai yang sebenarnya.
  1. Change in Management
Tentunya para manager ingin memberikan kesan bahwa dalam tangan mereka perusahaan menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan manajemen sebelumnya. Praktik manajemen laba biasanya terjadi pada sekitar periode pergantian direksi atau Chief Executive officer (CEO).
Motivasi-motivasi tersebut mendorong terbentuknya perilaku oportunis dalam hubungan kontrak antara pihak-pihak yang terlibat, baik antara pemegang saham dan manajemen maupun antara pengelola perusahaan dan pihak lainnya.
2.2. Contoh Kasus Creative accounting
Fenomena intervensi manajemen dalam penyusunan laporan keuangan memunculkan skandal berkenaan dengan manipulasi terhadap angka-angka akuntansi yang dilaporkan. Beberapa skandal penyusunan laporan keuangan yang terkait dengan creative accounting telah menjadi fenomena tersendiri di Indonesia. Misalnya fenomena kasus rekayasa pada laporan keuangan 2010 PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) atau Askrindo telah menjadi pusat perhatian dunia usaha. Laporan keuangan yang seharusnya sebagai bentuk pertanggungjawaban keuangan, telah di salah gunakan penyajiannya oleh manajemen dalam upaya menutupi kerugian penjaminan kredit. Lebih lanjut, kasus akuntansi atas penyajian laporan keuangan juga terjadi pada Bank Lippo, PT Citra Marga Nusapala, Bank Duta, PT Kimia Farma Tbk, PT Telkom, PT Merck dan PT Ades Alfindo, PT Perusahaan Gas Negara (Sulistiawan, Januarsi, dan Alvia, 2011).
Pada paper ini akan dijelaskan tentang kasus yang dialami PT Asuransi Kredit Indonesia atau PT Askrindo (Persero). Kasus ini berawal ketika Askrindo menempatkan investasi berupa repurchase agreement (repo), kontrak pengelolaan dana (KPD), obligasi, dan reksa dana di lima manajemen investasi (MI) dan perantara pedagang efek (broker). Diduga Askrindo telah melakukan rekayasa laporan keuangan.
Kasus ini berawal ketika Askrindo menempatkan investasi berupa repurchase agreement (repo), kontrak pengelolaan dana (KPD), obligasi, dan reksa dana di sejumlah manajer investasi dan perantara pedagang efek (broker). Berdasarkan penelusuran Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), investasi melalui KPD dilakukan sejak 2005, sedangkan repo sejak 2008. Kedua praktek investasi yang terlarang bagi perusahaan asuransi itu teridentifikasi pada 2008-2010. Ketua Bapepam-LK Nurhaida mengatakan, pengusutan terhadap kasus Askrindo telah dilakukan sejak Bapepam-LK meminta perusahaan asuransi menghentikan dan melaporkan investasi melalui KPD pada 2008.
Adapun transaksi repo ditemukan berdasarkan laporan keuangan Askrindo pada 2009 yang telah diaudit. Bapepam-LK menemukan praktek menyimpang yang dilakukan Askrindo, yaitu menempatkan investasi repo, KPD, obligasi, serta reksa dana di sejumlah manajer investasi dan broker. Bapepam-LK juga menemukan KPD yang tak sesuai dengan ketentuan, di antaranya KPD dengan tiga manajer investasi, yakni PT Harvestindo Asset Management, PT Jakarta Investment, serta PT Reliance Asset Management. Lalu KPD dengan dua perusahaan bukan manajer investasi, yakni PT Batavia Prosperindo Financial Services dan PT Jakarta Securities. Dalam data Bapepam-LK, investasi yang digelontorkan di lima perusahaan investasi tersebut sebesar Rp 439 miliar.
Berdasarkan catatan Bapepam-LK, penempatan investasi Askrindo kepada kelima MI tersebut. I) Jakarta Investment – Investasi KPD sebesar Rp41 miliar dan Repo Rp132 miliar. II) Harvestindo Asset Management – Investasi KPD dan Repo sebesar Rp80 miliar. III) Reliance Asset Management – Investasi KPD dan Repo sebesar Rp93,32 miliar, serta reksa dana Rp17,82 miliar. IV) Batavia Prosperindo Financial Services – Investasi Repo Rp6,3 miliar. V) Jakarta Securities – Investasi Repo Rp20 miliar, dan obligasi negara serta korporasi Rp66,11 miliar.
Menurut Nurhaida dalam pernyataannya yang dimuat pada portal berita hukumonline, penempatan investasi tersebut telah dilakukan Askrindo sejak 2005, sedangkan Repo mulai dilakukan sejak 2008. Padahal berdasarkan aturan pasar modal V.G.6, perusahaan asuransi dilarang menempatkan investasi dalam bentuk kontrak bilateral atau KPD, dan Repo.
2.3.  Rumusan yang Sering Digunakan
Menurut Amat, Oriol, dan Gowsthorpe (2004), creative accounting merupakan tranformasi informasi keuangan dengan menggunakan pilihan metode, estimasi, dan praktek akuntansi yang diperbolehkan oleh Standar Akuntansi. Menurut Myddelton (2009), akuntan yang dianggap kreatif adalah akuntan yang menginterpretasikan area abu-abu untuk mendapatkan manfaat atau keuntungan dari hasil interpretasi tersebut. Jadi, dengan harapan mendapatkan tujuan tertentu, maka akan menginterpretasikan kebijakan akuntansi dengan cara tertentu juga. Menurut Sulistiawan (2003), creative accounting adalah aktivitas badan usaha untuk memanfaatkan teknik dan kebijakan akuntansi guna mendapatkan hasil yang diinginkan.
Scott (1997) merangkum pola umum yang banyak dilakukan dalam praktik manajemen laba, yaitu taking a bath, income minimization, income maximization, dan income smoothing.
1.       Pola taking a bath
Pola taking a bath dilakukan dengan cara mengatur laba perusahaan tahun berjalan menjadi sangat tinggi atau rendah dibandingkan laba periode tahun sebelumnya atau tahun berikutnya. Pola ini biasa dipakai pada perusahaan yang sedang mengalami masalah organisasi (organizational stress) atau sedang dalam proses pergantian pimpinan manajemen perusahaan.
2.       Pola income minimization
Pola income minimization dilakukan dengan cara menjadikan laba periode tahun berjalan lebih rendah dari laba sebenarnya. Secara praktis, pola ini relatif sering dilakukan dengan motivasi perpajakan dan politis. Demi menjaga konsistensi bantuan, subsidi, atau risiko diprivatisasi, manajer cenderung menururnkan laba karena khawatir jika kinerja baik, sahamnya akan dijual atau tidak mendapatkan bantuan.
3.       Pola income maximization
Untuk pola income maximization, pola ini merupakan kebalikan dari pola income minimization. Menurut pola ini, manajemen laba dilakukan dengan cara menjadikan laba tahun berjalan lebih tinggi dari laba sebenarnya. Pola ini biasanya digunakan oleh perusahaan yang akan melakukan IPO agar mendapatkan kepercayaan dari kreditor.
4.       Pola income smoothing
Pola terakhir adalah pola income smoothing. Pola ini dilakukan dengan mengurangi fluktuasi laba sehingga laba yang dilaporkan relatif stabil. Untuk investor dan kreditur yang memiliki sifat risk adverse, kestabilan laba merupakan hal penting dalam pengambilan keputusan.
Dalam pelaksanaannya creative accounting memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungan yang didapat dari praktek creative accounting ini jelaslah laba, dan citra perusahaan yang positif seperti yang telah dibahas di atas. Namun selain keuntungan tersebut, praktek creative accounting ini juga konsekuensi yang berpotensi menimbulkan  kerugian bagi perusahaan yang mengaplikasikannya, beberapa diantaranya adalah:
1.       Terhadap perusahaan pelaku
Jika praktik ini diketahui oleh publik maka kepercayaan publik akan turun dan berakibat pada harga saham yang terus turun. Jika perusahaan tidak mampu menanggulangi hutang-hutangnya dampak terburuk bahkan mungkin terjadi, yaitu kebangkrutan.
2.       Terhadap kantor akuntan publik
Praktik ini secara otomatis akan menyeret institusi yang melakukan audit terhadap laporan keuangannya. Auditor tentu akan kehilangan kredibilitas, ijin audit, kehilangan klien, dan bahkan bukan tidak mungkin terseret dalam tindak pidana.
3.       Terhadap Publik dan Lembaga-lembaga Publik
Merosotnya kepercayaan publik terhadap kejujuran, transparansi, baik dari direksi perusahaan, perusahaan audit dan bahkan kredibilitas pasar modal sendiri yang membuat mereka semakin berhati-hati dalam membidik peluang investasi. Perusahaan-perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di pasar modal diharuskan memenuhi persyaratan pembeberan (disclosure) yang luar biasa ketat.
4.       Terhadap Profesi Akuntansi
Pemerintah tentu akan memperketat proses administrasi dan birokrasi untuk institusi baru menjadi auditor. Selain itu, berbagai ketentuan akan diberlakukan seperti kewajiban mendaftar, standar audit, disciplinary hearing, sanksi, dll juga akan diberlakukan serta diawasi secara seksama oleh publik maupun pemerintah.
5.       Terhadap Investor
Para pemegang saham (Investor) dapat melayangkan gugatan class action terhadap para biggest players di bursa saham seperti Wall Street dengan tuduhan melakukan penipuan (Fraud). Gugatan itu perlu dilakukan untuk melindungi kepentingan public. Kolapsnya sebuah perusahaan terutama perusahaan besar juga mengguncang neraca keuangan para kreditornya yang telah mengucurkan dana yang sangat besar.
6.       Terhadap Karyawan
Ribuan pegawai tidak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga tabungan pensiunan mereka jika perusahaan mengalami collapse sangat parah. Dampak bagi karyawan akan sangat serius karena biasanya perusahan sendiri yang mengadministrasi tabungan pensiun pegawai-pegawai mereka. Perusahaan akan menanamkan uang tersebut dalam bentuk saham pada perusahaan-perusahaan tersebut.

3.1.   Kesimpulan
Creative accounting merupakan hal yang sering dilakukan oleh pihak internal diperusahaan bukan hanya untuk memanipulasi data yang ada akan tetapi juga untuk menyelamatkan perusahaannya. Akan tetapi, ada faktor yang menyebabkan memanipulasi data dilakukan oleh perusahaaan untuk mendapatkan respon yang positif dari beberapa pihak dan keuntungan baik itu untuk pihak internal perusahaan maupun untuk umum.
Dalam melakukan kecurangan memanipulasi data ada banyak cara untuk mendeteksinya dan mencegahnya. Hal itu, dapat dilakukan dengan mengevaluasi ulang data yang ada dan memeriksa kembali sehingga kecurangan yang ada dapat terdeteksi dan dicegah. Sehingga cara creative accounting tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu hanya untuk keuntungan pribadinya bukan untuk kelangsungan perusahaan dan pemegang saham perusahaan.
Creative accounting memiliki dampak yang kurang baik untuk perusahaan baik itu pemilik perusahaan tersebut maupun investor yang ingin menanamkan modalnya ke perusahaan tersebut. Upaya menghilangkan perilaku tidak etis manajemen dan kecenderungan kecurangan akuntansi yaitu mengefektifkan pengendalian internal termasuk penegakan hukum, perbaikan sistem pengawasan dan pengendalian, pelaksanaan good governance, memperbaiki moral dari pengelola perusahaan, yang diwujudkan dengan mengembangkan sikap komitmen terhadap perusahaan, negara dan masyarakat.
(Anjar)
  
Refference:
Amat, O. dan C. Gowthorpe. 2004. Creative Accounting: Nature, Incidence and Ethical Issue.
Amin, Widjaja Tunggal. 2001. Pengukuran Kinerja dengan Balanced Scorecard. Jakarta: Harvarindo.
Basuki, Purnomo. (2000). Dasar-Dasar Urologi. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, Katalog Dalam Terbitan (KTD).
Fiserova, Veronika dan Slova, Klicova. 2005. Effective of Creative Accounting on the Future of the Company.
Hardono, Sony Warsono bin, Ratna Chandrasari. 2013. Dasar-dasar akuntansi TPA+ Tes Potensi Akuntansi. Yogyakarta: AB Publisher.
Merchant, K. dan J. Rockness. 1994. The Ethics of Managing Earnings: An Empirical Investigation. Journal of Accounting and Public Policy.
Myddelton,D.R. 2009. Margin of Error In Accounting. New York: Palgrave Macmillan.
Naser K. 1993. Creative Financial Accounting: its nature and use. Hemel Hempstead: Prentice-Hall, Inc.
Passer, M. M., & Smith, R. E. (2007). Psychology: The science of mind and behavior (3rd ed). New York: McGraw-Hill.
Scott, William R. 1997. Financial Accounting Theory, International Editiom. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Sulistiawan, D. 2003. Praktik Creative Accounting: sebuah kajian analitis. Akuntansi dan Teknologi Informasi.
Sulistiawan, Dedhy, Yeni Januarsi dan Liza Alvia. 2011. Creative Accounting : Mengungkap Manajemen Laba dan Skandal Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.
Triyuwono, Iwan. 2000. Organisasi dan Akuntansi Syariah. Yogyakarta: LkiS.
Yoz. 2013. Meneg BUMN Rombak Direksi Askrindo.  http://www.hukumonline.com


No comments:

Post a Comment

CARA MENGUNCI ATAU MEMPROTECT EXCEL

CARA MENGUNCI ATAU MEMPROTECT EXCEL  Bagi Anda para pebisnis, akademisi, maupun profesi lainnya yang berkaitan dengan program excel k...